Agusfirman's Blog


MENIMBANG KEMBALI DEMOKRASI KITA

Posted in Opini oleh agusfirman pada 14 Mei 2009

Hasil pemilu legislatif 2009 menunjukkan betapa demokrasi merupakan sistem politik yang tidak sederhana. Kesimpulan ini didasarkan pada proses pelaksanaan pemilu yang banyak mendapat kritik karena menyisakan berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut hampir merata di semua lini, mulai dari pelaksana, dalam hal ini KPU, para kontestan atau parpol, sampai masyarakat pemilih. Masalah DPT tentu menempati ranking pertama dalam daftar, karena kekisruhan DPT ini menyebabkan puluhan juta pemilih tidak bisa menentukan pilihan 9 April lalu. Di tingkat kontestan, muncul fenomena yang mengharukan, menggelikan dan konyol, seperti tingkah parpol yang tidak puas terhadap hasil pemilu banyak bersifat anarkis, kelakuan caleg yang tidak masuk akal. Adapun di tingkat pemilih tidak jauh berbeda, banyak pemilih yang tidak tahu cara memilih dan ada juga yang tidak bisa menyalurkan pilihan dengan benar. Bagaimana tidak, di suatu dapil seorang caleg yang sudah meninggal dunia malah memperoleh suara yang signifikan, demikian juga caleg yang sedang tersangkut kasus korupsi malah memuncaki perolehan suara di dapilnya.

Sebenarnya mengapa cerita di balik pelaksanaan pemilu begitu jauh dari teori-teori besar yang selama ini menghiasi lembaran buku-buku ilmu politik?. Apakah kita belum siap berdemokrasi? Atau mungkin sistem ini tidak sesuai dengan kita?. Kedua kemungkinan sebab di atas perlu untuk dijawab mengingat demokrasi tidak lagi merupakan masalah politik an sich, melainkan sudah menjadi masalah budaya, gaya hidup dan tren.

Ada gejala bahwa pilihan kita terhadap demokrasi tidak lebih dari sekedar ikut tren perpolitikan dunia yang memang mengarusutamakan demokrasi. Namun kita lupa bahwa demokrasi membutuhkan kesiapan yang saling menunjang.

Oleh karena itu, memilih demokrasi tidak akan cukup dengan hanya perubahan institusional dari sistem politik, tetapi juga membutuhkan sebuah gerakan massif di segala lini. Demokrasi membutuhkan kesiapan mental, emosi dan intelektual. Sebagai sistem yang dipandang paling rasional, demokrasi membutuhkan pra syarat berupa adanya masyarakat atau rakyat yang rasional, berfikir logis dan ‘modern’. Dari segi pelaksana pemerintahan, demokrasi membutuhkan kemampuan sumber daya yang sudah merata. Artinya siapapun yang akan menjadi pemegang kekuasaan mampu dan kompeten, entah berasal dari kalangan parpol maupun profesional.

Yang kita lakukan sejak 1998 sampai sekarang masih pada taraf perubahan institusional, dan belum melakukan pendidikan politik yang memadai untuk menyiapkan masyarakat akan arti demokrasi. Sehingga, demokrasi seperti kehilangan ruh, karena hanya dinikmati oleh kalangan tertentu yang selama ini dipersepsikan dengan salah sebagai kaum elit. Ini tentu sebuah ironi, bagaimana mungkin sebuah sistem yang dibanggakan sebagai sistem yang menempatkan suara rakyat sebagai suara tertinggi hanya memberikan keuntungan bagi orang-orang tertentu yang merupakan golongan minoritas?.

Sampai di sini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perubahan institusional tersebut ternyata tidak sampai menghunjam dalam kesadaran politik rakyat. Sebagian besar rakyat di negeri ini masih menggunakan pola pikir kerajaan dimana para pembuat dan pelaksana kebijakan dianggap orang-orang yang terpilih, elit, mulia, wajib dihormati dan haram dikritik. Adapun rakyat adalah kawula yang hanya punya kewajiban melaksanakan titah dan melayani para raja. Mental kerajaan menganut pola hubungan rakyat-negara berbentuk vertikal, dimana raja adalah kaum elit dan penguasa, sedangkan rakyat adalah masyarakat kelas rendah.

Sementara dalam sistem demokrasi hal di atas tidak dikenal. Para pembuat dan pelaksana kebijakan tidak lebih dari sekedar wakil rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan sesungguhnya. Oleh karena itu, dalam demokrasi tidak dikenal istilah golongan ‘elit’ atau penguasa. Demokrasi tidak menginginkan munculnya para wakil rakyat yang bermental penguasa. Sebaliknya, para wakil tersebut diwajibkan bermental pembantu bagi majikan, yakni rakyat. Ungkapan vox populi vox dei, menjadi gambaran tegas dimana kedudukan rakyat dalam sistem demokrasi. Bukankah tidak ada suara yang lebih tinggi dari suara Tuhan?.

Menanamkan kesadaran demokratis bukanlah perkara mudah, sebab menyangkut pola pikir dan tradisi. Kesulitan tersebut semakin terasa mengingat budaya Indonesia nampaknya agak jauh dari budaya yang menjadi prasyarat demokrasi. Liberalisme yang merupakan pra syarat utama demokrasi tidak ditemukan dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Kita sudah kadung dikenal sebagai bangsa yang mementingkan kolektivitas, cenderung menghindari konflik, terlalu pemaaf, tidak kritis, sederhana dalam berfikir dan bertindak. Hal inilah yang nampaknya menjadi dasar pemikiran para pendiri bangsa ini sehingga tidak menjatuhkan pilihan pada sistem demokrasi.

Pancasila yang merupakan dasar dan ideologi negara merupakan intisari budaya politik Indonesia. Secara esensial, ideologi ini berbeda dengan demokrasi, dimana yang disebut pertama mengutamakan kebersamaan dan kekeluargaan sementara yang kedua lebih mementingkan hasil. Dalam sistem ketatanegaraan kita tidak dikenal istilah pemilihan langsung dan voting, dua sistem yang sangat terkenal dalam demokrasi. Seluruh keputusan dihasilkan lewat mekanisme musyawarah untuk mufakat. Sistem ini tentu saja sejalan dengan watak politik masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, penerapan demokrasi, khususnya demokrasi liberal sesungguhnya melanggar prinsip dasar konstitusi kita. Singkatnya demokrasi yang kita jalankan saat ini yang mengarah pada model demokrasi liberal bukanlah pilihan yang tepat, baik dari segi budaya maupun politik. Sayangnya, hanya sedikit yang memperhatikan hal tersebut atau mungkin pura-pura tidak tahu.

Dengan mengungkapkan berbagai asumsi di atas tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa demokrasi sama sekali tidak cocok dengan Indonesia. Asumsi di atas dimunculkan dengan maksud bahwa praktek demokrasi yang kita lakukan nampaknya tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kita saat ini. Seharusnya kita mulai berfikir untuk menggunakan demokrasi dengan perspektif yang berbeda. Toh sebagai sistem yang terbuka, penerjemahan demokrasi tidaklah tunggal.

Di luar praktek politiknya yang otoriter, Orde Baru sebenarnya telah meletakkan dasar demokrasi Indonesia yang dinamakan dengan sangat tepat sebagai Demokrasi Pancasila. Nama ini merupakan upaya mengawinkan ideologi demokrasi dengan Pancasila, atau dengan kata lain menerjemahkan nilai-nilai demokrasi dalam konteks keindonesiaan. Sayangnya, ide ini tenggelam di balik nafsu politik yang berlebihan dari para penguasa saat itu. Lebih disayangkan lagi, era reformasi yang datang kemudian malah memilih model demokrasi liberal karena menganggap semua peninggalan Orde Baru adalah salah. Kita memang lebih senang memulai sesuatu dari titik nol, menghukumi sesuatu tanpa pandang bulu. Padahal sebagai bangsa yang bijak, kita seharusnya bisa mengambil sisi baik dari sesuatu.

Secara konseptual, demokrasi ala Orde Baru lebih mendekati model Indonesia, bahkan dapat dikatakan lebih konstitusional. Bandingkan dengan konsep demokrasi kita sekarang yang sangat pragmatis dan banyak melupakan bahwa negara ini masih memiliki dasar yang disebut Pancasila. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa demokrasi indonesia adalah demokrasi Amerika Serikat yang berbahasa Indonesia. Betapa tidak, hampir semua konsep yang kita miliki tentang demokrasi merupakan pengadopsian tidak kreatif dari demokrasi negara adidaya itu.

Ke depan kita memerlukan suatu gerakan masif, suatu revolusi berfikir untuk mengganti frame berfikir kita mengenai demokrasi. Menjadi demokratis tidak mesti ter-Barat-kan atau menjadi Eropa atau Amerika. Kita bisa tetap bisa menjadi negara demokrastis tanpa harus menanggalkan identitas kita sebagai sebuah bangsa yang besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: